Hidup adalah untuk beribadah kepada Allah ‘Azza wa Jalla. Hidup merupakan kesempatan untuk mengumpulkan sebanyak-banyaknya bekal untuk menjalani kehidupan akhirat, kehidupan yang tiada akhir. Bekal tersebut adalah amal-amal shalih. Jika ingin bahagia di akhirat, manusia harus beramal shalih semasa hidupnya. Semakin banyak amal shalihnya dan semakin sedikit dosanya, maka insya Allah dia pasti akan menikmati kehidupan akhirat yang indah dan bahagia.
Karenanya, senyampang masih hidup, kita harus proaktif dan mengoptimalkan hidupnya dengan beramal shalih sebanyak-banyaknya. Sebab jika telah wafat, kita tidak bisa lagi beramal, catatan amal kita telah ditutup, tidak ada lagi kesempatan untuk beramal shalih, tidak ada lagi peluang untuk mengumpulkan bekal kebaikan.
Akan tetapi, Allah yang memiliki sifat rahmah (kasih sayang) kepada manusia, khususnya kepada insan yang beriman, telah menetapkan adanya amal jariyah, yaitu amal shalih yang sekalipun sudah tidak dilakukan lagi, malaikat pencatat amal baik tetap mencatat bahwa pelaku amal jariyah terus menerus melakukan amal jariyah tersebut sampai hari Qiyamah tegak.
Di antara amal-amal jariyah adalah sebagai berikut,
1. Ribath
Rasulullah Muhammad berkata,
كل ميت يختم على عمله إلا الذي مات مرابطا في سبيل الله فإنه ينموله عمله إلى يوم القيامة ويؤمن من فتان القبر
“Setiap orang yang mati itu ditutup buku catatan amalnya, kecuali orang yang melaksanakan ribath. Baginya akan dituliskan amalnya sampai hari Qiyamah kelak, dan ia akan diberi keamanan dari dua malaikat pembawa fitnah kubur.” [Sunan Abu Dawud no. 2139; Sunan At-Tirmidzi no. 1546; Al-Mustadrak Al-Hakim no. 2376; Shahih Ibnu Hibban no. 4708. Dinyatakan shahih oleh Al-Albani dalam Shahih At-Targhib wa At-Tarhib no. 1218 dan Shahih Al-Jami’ no. 4562; Tahqiq Misykah Al-Mashabih no. 3823]
Ribath adalah berjaga-jaga di perbatasan antara daerah kaum Muslimin dengan musuh ketika perang (Jihad) berkecamuk.
2. Shadaqah Jariyah
3. Ilmu yang Dimanfaatkan
Nabi Muhammad berkata,
من علم علما فله أجر من عمل به لا ينقص من أجر العامل
“Barangsiapa mengajarkan ilmu, maka baginya pahala orang yang mengamalkannya, tanpa mengurangi pahala orang yang mengamalkannya.” [Hasan: Shahih Sunan Ibnu Majah no. 196; Shahih Al-Jami’ no. 6396; Shahih At-Targhib wa At-Tarhib no. 77]
4. Doa Anak yang Shalih kepada Orang Tuanya
Rasulullah berkata, “Tatkala seorang manusia telah mati, terputuslah darinya amalnya, kecuali dari tiga amal; yaitu shadaqah jariyah, ilmu yang dimanfaatkan, dan anaknya yang shalih yang mendoakannya.” [Shahih Muslim no. 3084; Sunan Abu Dawud no. 2494; Sunan At-Tirmidzi no. 1297; Sunan An-Nasa`i no. 3591]
Shadaqah jariyah adalah shadaqah yang aktif, yaitu shadaqah yang manfaatnya selalu dirasakan oleh manusia, seperti shadaqah berupa buku yang bermanfaat, shadaqah berupa membangun fasilitas ibadah untuk kaum Muslimin, dan banyak contoh lainnya. Shadaqah seperti contoh ini adalah shadaqah yang manfaatnya terus dirasakan oleh manusia. Biar pun pelaku shadaqah telah wafat, shadaqahnya tetap bermanfaat. Maka dari sinilah, malaikat pencatat amal akan mencatat di buku catatan sang pelaku, bahwa pelaku sama seperti terus menerus bershadaqah.
Ilmu yang dimanfaatkan adalah segala macam ilmu yang bermanfaat bagi manusia. Yang paling utama adalah ilmu Syar’i. Sebab ilmu yang terpenting adalah ilmu Syar’i. Tanpa ilmu terhadap Syariat Islam, seseorang tidak akan bisa menunaikan tugas hidupnya yang pokok yaitu beribadah kepada Allah dengan ibadah yang benar.
Adapun ilmu duniawi, ada sebagiannya yang termasuk dalam kategori ilmu yang dimanfaatkan, yaitu ilmu yang bisa menunjang pelaksanaan ibadah kepada Allah. Semisal, ilmu tentang pesawat, dimana pesawat digunakan untuk berangkat haji bagi orang yang jauh dari Makkah. Maka ilmu duniawi yang menunjang pelaksanaan ibadah kepada Allah termasuk dalam kategori ilmu yang dimanfaatkan.
Harus diingat, ilmu Syar’i maupun ilmu duniawi yang baik akan bermanfaat bagi penyebarnya jika ilmu tersebut bermanfaat bagi dan atau dimanfaatkan manusia. Dan makna dari mengalirkan pahala ilmu yang dimanfaatkan adalah, ketika penyebar ilmu tersebut telah wafat, sedangkan ilmunya bermanfaat bagi dan atau dimanfaatkan manusia untuk melaksanakan berbagai ragam ibadah kepada Allah, maka seolah penyebar ilmu itu melakukan ibadah yang dilakukan orang-orang yang memanfaatkan ilmunya. Bayangkan, kalau yang memanfaatkan ilmunya itu sebanyak manusia di bumi, seberapa banyak catatan amalnya dan kebaikan yang akan ia dapatkan dari Allah.
5. Mengajarkan Kebaikan
Nabi Muhammad berkata, “Barangsiapa menunjukkan orang lain kepada amal kebaikan, maka baginya pahala yang sama dengan pahala yang didapat oleh orang yang melakukan amal kebaikan tersebut (lantaran petunjuk darinya).” [Shahih Muslim no. 3509; Sunan Abu Dawud no. 4464; Sunan At-Tirmidzi no. 2595; Musnad Ahmad no. 16465; Shahih Ibnu Hibban no. 288]
Nabi Muhammad berkata,
من دعا إلى هدى كان له من الأجر مثل أجور من تبعه لا ينقص ذلك من أجورهم شيئاً، ومن دعا على ضلالة كان عليه من الإثم مثل آثام من تبعه لا ينقص ذلم من آثامهم شيئاً
“Barangsiapa mengajak kepada petunjuk, maka baginya pahala yang sama banyaknya dengan pahala yang didapat oleh orang-orang yang melakukan petunjuk tersebut (lantaran ajakannya), tanpa mengurangi pahala mereka. Dan barangsiapa mengajak kepada kesesatan, maka baginya dosa yang sama banyaknya dengan dosa orang-orang yang melakukan kesesatan tersebut (lantaran ajakannya), tanpa sedikitpun mengurangi dosa mereka.” [Shahih Muslim no. 2674, 4831; Sunan Abu Dawud no. 3993; Sunan At-Tirmidzi no. 2598; Sunan Ibnu Majah no. 202; Musnad Ahmad no. 8795; Sunan Ad-Darimi no. 522; Shahih Ibnu Hibban no.112]
6. Membuat Tradisi yang Baik
Rasulullah berkata,
من سن سنة حسنة فعمل بها كان له أجرها ومثل أجر من عمل بها لا ينقص من أجورهم شيئا ومن سن سنة سيئة فعمل بها كان عليه وزرها ووزر من عمل بها من بعده لا ينقص من أوزارهم شيئا
“Barangsiapa membuat sebuah sunnah yang baik dalam Islam, niscaya ia akan mendapatkan pahala dari sunnah baik yang ia kerjakan itu dan pahala dari orang-orang yang mengerjakan sunnah baik yang ia buat tersebut tanpa mengurangi sedikitpun pahala mereka. Dan barangsiapa membuat sunnah yang buruk dalam, Islam, niscaya ia akan mendapatkan dosa dari sunnah buruk yang ia kerjakan itu dan dosa orang-orang yang mengerjakan sunnah buruk yang ia buat tersebut tanpa mengurangi sedikitpun dosa mereka.” [Shahih Muslim no. 1691; Sunan At-Tirmidzi no. 2599; Sunan Ibnu Majah no. 199]
Sunnah artinya tradisi, adat, kebiasaan, atau gaya hidup. Dalam hadits ini Rasulullah mengandengkan sunnah dengan Islam, ini mengisyaratkan bahwa tolok ukur sunnah tersebut baik atau buruk adalah Islam. Jika sesuai dengan Islam, sunnah tersebut baik. Jika sunnah yang dibuat tersebut tidak ada akar ajarannya dalam Islam atau menyelisihi atau bahkan bertentangan dengan Islam, sunnah tersebut buruk. Barangsiapa membuat sebuah sunnah artinya barangsiapa membuat sebuah tradisi. Bisa mendapat pahala dari pengikutnya atau penirunya jika sunnah atau tradisi yang diciptakan baik yaitu sesuai dengan Islam. Dan akan mendapat dosa dari pengikutnya atau penirunya ketika sunnah atau tradisi yang diciptakan tidak ada akar ajarannya dalam Islam, atau menyelisihi Islam, atau bertentangan dengan Islam.
7. Mewariskan Mush-haf Al-Qur`an
8. Membangun Masjid
9. Menyediakan Rumah untuk Ibnu Sabil
10. Mengalirkan Sungai
11. Sedekah ketika Masih Sehat dan Hidup
Nabi Muhammad berkata,
إن مما يلحق المؤمن من عمله وحسناته بعد موته علما نشره وولدا صالحا تركه ومصحفا ورثه أو مسجدا بناه أو بيتا لابن السبيل بناه أو نهرا أجراه أو صدقة أخرجها من ماله في صحته وحياته تلحقه من بعد موته
“Sesungguhnya di antara amal dan kebaikan yang pahalanya akan tetap mengalir kepada seorang Mu`min, walaupun ia telah mati, adalah ilmu yang ia ajarkan dan ia sebar luaskan, anak shalih yang ia tinggalkan, mush-haf Al-Qur`an yang ia wariskan, masjid yang ia bangun, rumah untuk Ibnu Sabil yang ia bangun, sungai yang ia alirkan, dan shadaqah yang ia keluarkan ketika masih sehat dan hifup. Semua pahala amal ini akan sampai kepadanya meski ia telah mati.” [Sunan Ibnu Majah no. 238; Syu’ab Al-Iman Al-Baihaqi no. 3294; Shahih Ibnu Khuzaimah no. 2293. Dinyatakan hasan oleh Al-Albani dalam Shahih Al-Jami’ no. 2231; Shahih At-targhib wa At-Tarhib no. 77, 112, dan 275; Irwa` Al-Ghalil no. 1079; Tahqiq Misykah Al-Mashabih no. 254]
Amal-amal ini prinsipnya sama dengan amal jariyah lainnya, malaikat mencatat dalam buku catatan amal sang pelaku bahwa pelaku amal ini (seperti) terus menerus mengerjakan amal ini, sejak selesai mengerjakan amal ini sampai hari Qiyamah tegak. Dan akan seperti ini selama amal jariyah yang dilakukannya itu membawa manfaat bagi orang lain.
12. Mati dalam keadaan berhaji, berumrah, atau berjihad fi sabilillah
Rasulullah berkata, “Barangsiapa keluar untuk berhaji lalu meninggal, maka dicatat baginya pahala orang yang berhaji hingga hari qiyamah. Barangsiapa keluar untuk berumrah lalu meninggal, maka dicatat baginya pahala orang yang berumrah hingga hari qiyamah. Barangsiapa keluar untuk berperang (di medan jihad) lalu meninggal, maka dicatat baginya pahala orang yang berperang (di medan jihad) hingga hari qiyamah.” [Shahih lighairihi: Shahih At-Targhib wa At-Tarhib, no. 1114, 1267]
13. Memberi makan orang berpuasa dan membekali mujahid
Shahih At-Targhib Kitab Puasa 1078
14. ..
15. ..
16. ..
Demikianlah beberapa amal jariyah yang disebutkan secara eksplisit dalam nash-nash syar’i dan telah disepakati oleh kaum Muslimin. Masih banyak sebenarnya amal-amal jariyah, baik yang disebutkan secara eksplisit maupun secara implisit dalam nash-nash syar’i, baik yang disepakati maupun yang masih diperselisihkan oleh para Ulama Islam.